Arsip Kategori: Puisi

Aku hanya kunang-kunang nan redup

kunang-kunangDibelantara ini aku terbang bergerombol
Teman disampingku menyenggolku
Entah karena membalas keisenganku
Atau entah aku salah apa..
Sungguh senggolannya meredupkan nyalaku
Aku pusing seketika..
Aku tak mengenali diriku..apatah sesiapa..
Rasanya ingin kuhempaskan tubuhku ke tanah
Agar hilang kebingunganku
Entahlah,,,,,
Aku tahu kawan yang lain masih mengharapkanku
Tapi rasanya aku sesak sekali…
Aku merasa bukan siapa-siapa…
Aku sangat menyesali diriku..
Aku malu pada kawananku yang dulu..
Walau aku pernah ditamparnya

Entahlah…
Entahlah…
Entahlah…

Aku terbang tertatih Sambilnya bernyanyi
“aku Kunang-kunang tidak untuk dikenang-kenang”
“aku kunang-kunang tidak untuk disenang-senang”
“aku kunag-kunang tidak untuk dimenang-menang”
“aku kunang-kunag hanya pantas disewenag-wenang”
“aku kunang-kunang dengan pandangan kunang-kunang”

“aku kunang-kunang….”
“aku kunang-kunang….”
“aku kunang-kunang….”

 

Puisi: Diami dan Tak Diam

418858_4652642279928_1942397246_n

namamu mantra, kurapal hafal tanpa alfa..
kosakataku berkurang sejak mengenalmu
neuron otakku overaktif membuat jejaring sketsa rautmu
malam bahkan tak melenakanku, di ujung mataku selalu senja
dan engkau adalah siluet dengan wajah terang…

Terimakasih telah mendiami hatiku, hingga hatiku tak pernah diam